📖 Daftar Isi
Pengantar
Dayah Miftahul Falah Al-Aziziyah merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam tradisional yang berperan penting dalam mencetak generasi Qur'ani dan berilmu di Kabupaten Bireuen, Aceh. Berlokasi strategis di Jln. Banda Aceh – Medan KM. 185,5 Cot Batee Geulungku, Gampong Mns. Reudeup, Kecamatan Pandrah, Dayah ini telah mengukir sejarah panjang dalam dunia pendidikan sejak awal berdirinya.
Latar Belakang dan Sejarah Berdirinya
Cikal bakal Dayah Miftahul Falah Al-Aziziyah bermula dari sebuah balai pengajian sederhana yang dikenal dengan nama "Bale Cut". Balai pengajian ini dibangun pada era 1980-an atas swadaya masyarakat Meunasah Reudeup, Kecamatan Pandrah. Bale Cut berdiri di atas sebidang kebun milik Almarhum Tgk. Sudirman Arifin, yang kelak menjadi Pimpinan Dayah Miftahul Falah. Lokasinya terletak sekitar 200 meter arah Barat Simpang Ara, Jalan Medan – Banda Aceh, Desa Cot Leubeng.
Tujuan utama pendirian Bale Cut adalah untuk membekali generasi muda Gampong Mns. Reudeup dan sekitarnya dengan kemampuan membaca Al-Qur’an serta memahami Kitab Jawi sebagai dasar ilmu agama. Seiring berjalannya waktu, minat masyarakat terhadap pengajian ini semakin tinggi. Jumlah murid pun terus bertambah, tidak hanya dari Gampong Mns. Reudeup tetapi juga dari wilayah lain di sekitar Kecamatan Pandrah.
Melihat antusiasme yang besar, Bale Cut kemudian diperluas, dan sistem pengajaran mulai dikelompokkan berdasarkan tingkatan. Para murid senior atau alumni turut diberdayakan sebagai dewan guru, membantu proses belajar mengajar di balai pengajian tersebut.
Peresmian dan Perkembangan Institusi
Titik balik penting terjadi pada tahun 1992, ketika balai pengajian Bale Cut resmi bertransformasi menjadi Dayah Miftahul Falah Al-Aziziyah. Peresmian ini dilakukan oleh Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan Jeunieb pada masa itu, Almarhum Bapak Usman Badal. Bersamaan dengan peresmian, Dayah Miftahul Falah Al-Aziziyah juga secara resmi terdaftar pada Departemen Agama Republik Indonesia, menandai pengakuan keberadaannya sebagai lembaga pendidikan formal.
Seiring berjalannya waktu, jumlah santri dan santriwati terus meningkat. Kebutuhan akan fasilitas yang memadai pun semakin mendesak, terutama ruang belajar, serta asrama untuk santri putra dan putri. Untuk mewujudkan hal ini, Pimpinan dan Pengurus Dayah berupaya mencari solusi perluasan lokasi.
Allah SWT kemudian menunjukkan jalan-Nya melalui Almarhum H. Abdullah Ma’un. Awalnya, Pimpinan Dayah berencana membeli sebidang tanah kebun miliknya yang berada di depan Dayah. Namun, H. Abdullah Ma’un tergerak hatinya untuk mewakafkan tanah tersebut kepada Dayah Miftahul Falah Al-Aziziyah. Wakaf inilah yang kini menjadi komplek asrama bagi santri putra, sebuah anugerah besar yang memungkinkan Dayah terus berkembang.
Visi dan Misi
Dayah Miftahul Falah Al-Aziziyah terus berkomitmen untuk menjadi pusat pendidikan Islam yang unggul, menghasilkan santri dan santriwati yang tidak hanya faqih dalam ilmu agama, tetapi juga berakhlak mulia dan siap mengabdi kepada masyarakat. Dengan dukungan fasilitas yang terus ditingkatkan dan dedikasi para pengajar, Dayah ini optimis dapat terus melahirkan generasi penerus yang berkualitas.
Penutup
Kisah Dayah Miftahul Falah Al-Aziziyah adalah cerminan semangat kebersamaan dan dedikasi dalam memajukan pendidikan Islam. Dari sebuah balai pengajian sederhana hingga menjadi Dayah yang diakui, lembaga ini terus berupaya memberikan kontribusi terbaik bagi umat dan bangsa.
